spreading the good feel

Archive for Februari, 2010

Bencikah pada Bumi?

Bintang bertandang, kemudian menghilang.
Berganti surya menawan hingga menegap di puncak dunia.
Terik menjerik berputar2 diantara waktu yg mendetik.
Memanggang bumi yg semakin membuncit.
Kemudian tanya itu menghampiri:
bencikah surya pada bumi sehingga terik muncul setengah mati?

(lebih…)

Iklan

Menjadi Jujur pada Diri

Ini pengalaman ketiga saya membaca karya Dewi Lestari. Sejak mengkhatamkan novel Supernova-Petir-nya, lalu menamatkan 11 kisah Recto Verso yg mengagumkan, kali ini saya dibuat takjub oleh rentetan bahasanya dalam Perahu Kertas. Saya punya pandangan sendiri terhadap karya Dee (nama pena Dewi Lestari –red), tentunya pandangan yg berbeda ketika saya menikmati karya Helvy Tiana Rossa atau Asma Nadia (dua penulis yg saya gila2i karyanya). Sebab menurut penerawangan kacamata sastra saya (jjiiiaahh gayanya doang tuh), genre tulisan Dee dan HTR-Asma Nadia memang dua hal yg berbeda, namun memiliki kesamaan: sarat makna (nah yg ini serius).

(lebih…)

-ot -ot

Let me laugh for a while before I show you this funny note…bwhahahahaha wkwkwkwk…ups oke done, now check this out…

***

Jantungku serasa bass yg di betot. Berdegup tak karuan sampai kepalaku cekot2. Kadang mata juga ikutan melotot. Demi menahan rasa yg kian hari kian berbobot. Bahkan aku hanya makan carrot dan tahu gejrot. Bagaimana berat badanku tidak jadi melorot?? Tapi untungnya tak sampai nyanyi lagu latah eh copot-copot.

(lebih…)

For You (teuing saha)

I wrote my words of my heart on the blue sky, but these were taken away by the wind

I wrote my words of my hearts on the beach, but the wave also took these away

So…I wrote my words in the depth in my heart…

And over there my words will be written forever…

Yeah I wanna write these words for you

Do you know what it that words??

The words are how much I Love You, and I just always thinkin’ of You…

***

(lebih…)

Satu Ikrar

Tak banyak yg ingin aku ucap padamu. Sebab disana ada beribu malu yg mengganggu dan tak bisa kuusir satu persatu. Belum lagi ragu yg kian membelenggu yg hampir tak berhasil kurayu untuk cepat berlalu. Aku sadar bibirku kelu, kata ini tercekat di paru2. Tapi kemudian aku tersentak seumpama dihantam palu, menyadarkan bahwa waktuku tinggal seujung kuku.

(lebih…)

Sekali Lagi

Sekali lagi Tuhan. Ijinkan aku kembali.

Ragaku tak bisa bergeming barang se-inchi sebab hatiku terperangkap dalam bingkai milik sesosok diri. Meski kusadari benar yg kupunya hanya sepotong mimpi. Dan bekal yg kubawa tinggal separuh nyali. Apakah masih bisa kugenggam pelangi itu tanpa harus ketakutan terlepas lagi??

(lebih…)