spreading the good feel

Archive for April, 2010

Sapa :)

Hai rumah hatiku…apa kabar hari ini, duuh kangen rasanya ingin mengekspresikan diri disini, pasalnya ada beberapa catatan hati tentang banyak hal, terutama pendidikan, yang ingin diungkapkan, Namun sayang, fokus utamaku kini tercurah untuk mata kuliah metodologi penelitian pendidikan yang merupakan cikal bakal dari perencanaan tesisku kelak. Alhamdulillahnya judulku sudah mendapat respon positif dari dosen. Tapi ya itu, banyak sumber2 yang sebagian besar jurnal berbahasa asing yang perlu porsi besar diperhatikan untuk kubaca habis.

(lebih…)

Iklan

Malam

Apa kabar malam?

Masihkah bisa kulukis wajah teduh itu pada warnamu?

Menatapinya dari kejauhan tanpa ingin dikenang

Menyematkan doa dibalik pelik rasa bimbang

Malam…

Mampukah lisan ini terus membahasakan aksaranya dalam pekatmu?

Melapangkan bathin hingga batas tipis sebuah harap

Dan aku hanya miliki waktu sempit ini

Malam yang gelap di warnamu

Malam yang pekat di kadarmu

Malam yang sendu di rasamu

Malam…

Dekap raga ini sampai fajar tiba

Sembunyi di Balik Topeng

Ingin kembali bersembunyi. Sungguh…

Keberadaan saya kok akhir2 ini jadi masalah buat org lain yah?? Tanpa maksudlah berbuat seperti itu. Saya hanya menjalani apa yg sudah Alloh beri. Hanya itu. Apakah salah saya kalo saya (Alhamdulillah) mendapat amanah beasiswa padahal mungkin prestasinya ga sebaik dirinya atau dirinya?? Apakah salah saya (Alhamdulillah) dikasih kelebihan (dan ini juga amanah) bisa menulis dan karyanya dikasih apresiasi lumayan bagus ketimbang tulisan dirinya atau dirinya?? Apakah adil jika saya dapat perlakuan ‘aneh’ (ga biasa, misal: dijutekin, didiemin, dicuekin –red) karena (katakanlah) keberuntungan yg Alloh titipkan pada saya ini?? Hmph…nasip nasip…

(lebih…)

Daku dan Dendam -part2-

Terusan tulisan Daku dan Dendam (double D eh three deng…)

Daku shock alias kaget bin tak percaya, sependendam itukah seorang melakolis? Hmm…kenapa ya bisa begitu? Ga cukup puas sama jawaban, “ya udah dari sononye begono.” Tapi udah nyari kesono kemari belum dapet alasan yg rasionable. Ya sudahlah…*pasrahmodeon*

(lebih…)

Daku dan Dendam -part1-

Berpikir bahwa sakit hati itu ternyata tidak ada obatnya kawan…maka mari sama2 menjaga lisan, menata polah tingkah, dan sekiranya telah bersalah silakan menebar maaf terdalam dari hati…saya mohon maaf lahir bathin, dan (meski ga nyambung) selamat bagi yg lulus UN ^^

(lebih…)

Menghargai Kenegatifan Diri?? *thinking then…*

Adalah dia seorang Adi, lengkapnya Aghniadi, siswa SMA kelas XI SMAN 5 Bandung yang pintar dan punya banyak kelebihan. Jagonya eksak, debat, bahkan menulis dan membuat puisi. Rasanya tak berlebihan jika saya memuji Adi. Hampir seluruh tulisan yang digoreskannya di note2 FB atau di situs pribadinya http://pelajarparuhwaktu.wordpress.com/ membuat saya terpaku sekaligus terpukau.

Untuk remaja seumurannya, dia memiliki kedewasaan dalam memandang sesuatu, tapi ga kolot, bahasanya jg ga berat, paslah sama karakter anak muda yang gaol, hehe…Hadduuhh makin bangga aja deh pernah kenal dengan sosok lelaki remaja berkacamata itu. Seperti hari ini, ga sengaja saya buka blognya, dan menjatuhkan pilihan pada catatan Adi yang berjudul MEMANUSIAKAN MANUSIA. Berikut isi lengkapnya. And i suggest to u to read this one…

***

(lebih…)

CATATAN RINDU UNTUK AYAH

Catatan untuk ayah juara 1 di dunia saya…

***

-Pagi itu di kelas 4 sebuah sekolah dasar-

“A…Ayah…Ayahku seperti matahari.” Ryan memulai, meski apa yang ia katakan berbeda dengan yang ia tulis. Saat itu kebetulan ia melihat jendela yang memantulkan sinar matahari. Seluruh isi kelas memusatkan penglihatan dan pendengaran mereka pada sosok yang tengah panas dingin di depan kelas itu. “Matahari…yang setiap hari menyinari kami dan menghangatkannya.” Lanjutnya puitis. Teman-temannya semakin khusyuk mendengarnya. Mereka pikir bagus apa? Hati Ryan berkomentar. Oh My God, help me.

Kepala Bu Afiah mengangguk saat Ryan menoleh kearahnya, meminta Ryan meneruskan ceritanya tentang ayah. “Walaupun lelah, tapi tak dikatakannya. Ia terus bersinar. Tanpa pernah mengeluh dan meminta imbalan. Setiap hari bekerja dengan mesin-mesinnya yang hampir membuat telingaku tuli. Bla…bla…,” Ryan melanjutkan kalimat-kalimatnya. Seperti disihir, kalimat-kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutnya.

“Ya…ayahku seperti matahari.” Ryan membungkukkan badannya. Memberi hormat. Menandakan ceritanya telah ia selesaikan.

Plok…plok…plok…

***

(lebih…)