spreading the good feel

Archive for Desember, 2010

JANJI

Jika hatimu meng-iya-kan bahwa janjiNYA itu pasti, lantas mengapa harus menggadaikan keyakinan dadamu dgn gelisah yg tak pada tempatnya, resah yg berlebih dirasa, bahkan marah yg naik hingga ke kepala? Sementara kebaikan itu barangkali datang dari kesabaran yg tak seorang pun bisa menduga besarnya. Bahwa sabar di kejadian pertama adalah surga.
(lebih…)

Iklan

Semakin (Tidak) Tahu

Semakin seseorang banyak tahu, semakin banyak ia disadarkan bahwa ia tidak banyak tahu. Semakin banyak ia diyakinkan bahwa ia tidak bisa bertindak semaunya dan sok tahu. Semakin banyak ia diinsyafkan bahwa ia tidak punya hak bersikap arogan atas apa yg ia tahu. Semakin banyak ia dipahamkan bahwa ia belum lagi layak menepuk dada dan berkata ‘inilah aku dengan apa2 yg aku tahu’.

(lebih…)

Obat Kuat

“Mba, kemana aja, lama banget ga kasih kabar, sehat?” ayah memulai pembicaraan setelah salam dengan nada khawatir, sebab teleponnya yg pertama gagal diterima putri sulungnya, saya. Memang sebelumnya saya membalas miss called dari nomor ayah dengan sms, “tadi mba ina beli obat dulu, yah…”

Mungkin karena ada frase kata ‘beli obat’ itu yg membuat ayah semakin khawatir. Sudah cukup lama tak kasih kabar, ternyata ketika dihubungi anaknya sedang membeli obat, jangan2 sedang kenapa2, mungkin pikir ayah begitu.

(lebih…)

ADA

Mungkin di kenaifan kita, ada kehidupan yg diam2 bisa beranjak menembus nadirnya lewat dukungan yg serba biasa dan bersahaja. Jadi mengapa terburu2 mengatakan diri kita tak berarti apa2 bagi sesama?

(lebih…)

Masanya

Dan segala sesuatu itu akan ada di masanya. Tiba sesuai waktu yg dijanji Pemilik raya. Tak mengalami perlambatan pun ketergesaan di milisekonnya. Semuanya telah ditakar sesuai kadar. Ketika yg diharap dalam hidup belum kunjung menyapa, bahkan saat doa2 sudah kian terlafadz di luar kepala, bukan berarti Tuhan tak cinta lantas mengabaikan pinta hambaNYA. Justru Tuhan menyimak setiap aksara yg dilantun dengan setumpuk asa itu. Jangankan pada rentang frekuensi suara paling rendah yg bisa didengar manusia, gumaman hati pun Tuhan tak lewati barang seabjad kata. Jadi masih perlukah menebalkan ragu di dinding jiwa??

Tuhan tak diam pada tangan2 yg ditengadahkan calon ibu dan ayah yg meminta suara riuh celoteh putra di bilangan usia mereka. Tak mungkin bertindak semena2 pada kerasnya ikhtiar yg dilakukan seorang pemuda mencari penghidupan yg menjadi tanggungannya. Tak serta merta tak mengindahkan wajah2 hamba yg telah cukup waktu untuk menggenapi dan menjaga agamanya dengan menikah.

(lebih…)