spreading the good feel

Obat Kuat

“Mba, kemana aja, lama banget ga kasih kabar, sehat?” ayah memulai pembicaraan setelah salam dengan nada khawatir, sebab teleponnya yg pertama gagal diterima putri sulungnya, saya. Memang sebelumnya saya membalas miss called dari nomor ayah dengan sms, “tadi mba ina beli obat dulu, yah…”

Mungkin karena ada frase kata ‘beli obat’ itu yg membuat ayah semakin khawatir. Sudah cukup lama tak kasih kabar, ternyata ketika dihubungi anaknya sedang membeli obat, jangan2 sedang kenapa2, mungkin pikir ayah begitu.

“Alhamdulillah sehat, yah, cuma ini pusingnya ga mempan kalo didiemin, jadi beli obat deh hehe,” ujar saya sambil terkekeh. Ayah hanya bilang, “kebiasaan.” Haha…orang2 rumah memang sudah paham benar tabiat saya ketika terserang penyakit, kalau dalam jangka waktu 3 hari masih terasa sakitnya, barulah penyakit itu layak diobati. Jadi kalau sehari dua hari masih sakit mah wajar, begitu saya berseloroh.

Ditegur ayah dengan ‘lama banget ga kasih kabar’ membuat saya jadi tersadar, melihat kalender dan menghitung berapa waktu ga ngobrol sama ayah ibu. Jadi feeling guilty. “Ruwet sm tugas2, yah,” that was my answer. Hmm sebenarnya ‘tugas2’ itu bisa jadi the best reason, tp ga tau kenapa melontarkan jawaban itu malah bikin saya jadi makin merasa bersalah. Hanya gara2 tugas jadi ‘melupakan’ orang2 yg siang malam bahkan di setiap detiknya mendoakan saya.

“Maaf ya bu, yah,” akhirnya saya mengakui kalau saya salah, meskipun ayah ibu ga pernah minta saya untuk minta maaf. Sebab tanpa dimintai pengertian pun mereka sudah memahaminya. Betapa tidak mudahnya saya bisa berada di tahap ini, meski sekarang saya kena batunya (baca: konsekuensi) sendiri, banyak dikejar2 tugas dan deadline.

Bla…bla…cerita ini itu, mulai dari kabar sodara2, anak2 gadis teman ibu yg menikah padahal usianya lebih muda dari saya dan bisa diramal setelah menceritakan itu ibu langsung menyindir2 saya, haha…sampai cerita soal bagaimana menyelesaikan tugas media pembelajaran yg harus melibatkan tukang kayu. Sebab di Surabaya sini saya ga tau dimana orang yg bisa membantu saya mengerjakan proyek ini. Dan solusinya adalah menggambarkan rancangan saya dan dikirim kerumah, sebab ayah saya sendiri yg akan membantunya. Belakangan saya semakin bersyukur punya ayah yg serba bisa, apalagi soal perkayuan, jagonya dah.

Aahhh…rasanya satu persatu kesusahan yg menggelayuti pundak ini terangkat. Ajaib, setelah mendengar suara2 kedua orang tercinta itu migren dan maag yg dirasa seharian itu langsung raibbb…apalagi ketika didoakan, “semoga Alloh paring aman, mudah, selamat, sehat, lancar, barokah ya mba,” wwuuuzzzz wuuzzzz makin banyak angin surga yg bertiup. Bikin semangat lagi menuntaskan tugas2 yg belum kelar.

Jadi…ternyata obat yg paling ampuh dan mujarab ketika pusing2 atau sakit perut ga jelas adalah suara dan doa orang tua. That’s more than enough. Iya, obat kuat itu ternyata begitu sederhana. Alhamdulillah, syukur padaMU Alloh, masih bisa mendengar suara dan doa ayah ibu.

Let’s go back to work!! Elliptik is waiting for u :))

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: