spreading the good feel

Archive for the ‘Contemplation of Heart and Mind’ Category

Ibu, Pernahkah?

Ibu, pernahkah kau bayangkan sebelumnya akan ada aku yg seperti ini? Sebentuk raga yg belum lagi kuat menopang kemuliaanmu kecuali dengan penghormatan takzim yg itu pun jauh dari sempurna.

Pernahkah kau bersitkan harap mendapati aku yg begini duhai pemunya Surga di telapak kakinya? Serupa wajah yg belum mampu mengangkat keluhuran derajatmu melainkan dengan sebait doa2 sederhana yg disadari tak akan sanggup menebus apapun.

(lebih…)

JANJI

Jika hatimu meng-iya-kan bahwa janjiNYA itu pasti, lantas mengapa harus menggadaikan keyakinan dadamu dgn gelisah yg tak pada tempatnya, resah yg berlebih dirasa, bahkan marah yg naik hingga ke kepala? Sementara kebaikan itu barangkali datang dari kesabaran yg tak seorang pun bisa menduga besarnya. Bahwa sabar di kejadian pertama adalah surga.
(lebih…)

Masanya

Dan segala sesuatu itu akan ada di masanya. Tiba sesuai waktu yg dijanji Pemilik raya. Tak mengalami perlambatan pun ketergesaan di milisekonnya. Semuanya telah ditakar sesuai kadar. Ketika yg diharap dalam hidup belum kunjung menyapa, bahkan saat doa2 sudah kian terlafadz di luar kepala, bukan berarti Tuhan tak cinta lantas mengabaikan pinta hambaNYA. Justru Tuhan menyimak setiap aksara yg dilantun dengan setumpuk asa itu. Jangankan pada rentang frekuensi suara paling rendah yg bisa didengar manusia, gumaman hati pun Tuhan tak lewati barang seabjad kata. Jadi masih perlukah menebalkan ragu di dinding jiwa??

Tuhan tak diam pada tangan2 yg ditengadahkan calon ibu dan ayah yg meminta suara riuh celoteh putra di bilangan usia mereka. Tak mungkin bertindak semena2 pada kerasnya ikhtiar yg dilakukan seorang pemuda mencari penghidupan yg menjadi tanggungannya. Tak serta merta tak mengindahkan wajah2 hamba yg telah cukup waktu untuk menggenapi dan menjaga agamanya dengan menikah.

(lebih…)

2 Makhluk -pikiran & perasaan-

Aargggh…sebenarnya aku malas menggeram seperti itu. Terlebih ketika aku sadar, geraman tak mampu menggeser posisi dunia sepersekianmilimeter pun. Aku juga tak ingin mengeluh dengan kalimat tanya ‘kenapa’ atau ‘mengapa’ soal hidup yang nampak selalu tersenyum sinis pada hariku. Karena selain aku tahu semestaku tak serta merta berubah menjadi kahyangan yang indah, tentu kau akan memberiku wejangan soal hidup yang lamanya melebihi kuliah 4 sks. Oh tidaakk…menjalani rangkaian hidup serupa benang kusut saja sudah cukup rumit untukku, tak perlulah ditambah dengan pidatomu yang sok humanis itu. No, thanks. (sembari menutup wajah dengan sebelah tangan)

***

(lebih…)

Catatan Paruh Waktu -Ttg Sebait Nada Nafas-

Hidup adalah pilihan. (ehhem, sok tua dikit ah :D)

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memopulerkan kutipan itu dan sejak kapan muncul kemudian berlaku di kehidupan manusia. Tapi satu hal yang terjadi sampai saat ini adalah banyak orang, termasuk saya, yang lantas lebih berhati2 dalam mengambil keputusan, tentang apapun itu dan bersangkutan dengan siapapun itu. Sebab dalam pandangan sederhana saya, yang katakanlah masih awam berbicara soal filsafat kehidupan, hidup bukan tentang diri kita semata. Ada pihak2 lain yang juga memiliki porsi untuk saya pikirkan, yang perlu disertakan dalam setiap pertimbangan.

(lebih…)

Sembunyi di Balik Topeng

Ingin kembali bersembunyi. Sungguh…

Keberadaan saya kok akhir2 ini jadi masalah buat org lain yah?? Tanpa maksudlah berbuat seperti itu. Saya hanya menjalani apa yg sudah Alloh beri. Hanya itu. Apakah salah saya kalo saya (Alhamdulillah) mendapat amanah beasiswa padahal mungkin prestasinya ga sebaik dirinya atau dirinya?? Apakah salah saya (Alhamdulillah) dikasih kelebihan (dan ini juga amanah) bisa menulis dan karyanya dikasih apresiasi lumayan bagus ketimbang tulisan dirinya atau dirinya?? Apakah adil jika saya dapat perlakuan ‘aneh’ (ga biasa, misal: dijutekin, didiemin, dicuekin –red) karena (katakanlah) keberuntungan yg Alloh titipkan pada saya ini?? Hmph…nasip nasip…

(lebih…)

Menghargai Kenegatifan Diri?? *thinking then…*

Adalah dia seorang Adi, lengkapnya Aghniadi, siswa SMA kelas XI SMAN 5 Bandung yang pintar dan punya banyak kelebihan. Jagonya eksak, debat, bahkan menulis dan membuat puisi. Rasanya tak berlebihan jika saya memuji Adi. Hampir seluruh tulisan yang digoreskannya di note2 FB atau di situs pribadinya http://pelajarparuhwaktu.wordpress.com/ membuat saya terpaku sekaligus terpukau.

Untuk remaja seumurannya, dia memiliki kedewasaan dalam memandang sesuatu, tapi ga kolot, bahasanya jg ga berat, paslah sama karakter anak muda yang gaol, hehe…Hadduuhh makin bangga aja deh pernah kenal dengan sosok lelaki remaja berkacamata itu. Seperti hari ini, ga sengaja saya buka blognya, dan menjatuhkan pilihan pada catatan Adi yang berjudul MEMANUSIAKAN MANUSIA. Berikut isi lengkapnya. And i suggest to u to read this one…

***

(lebih…)