spreading the good feel

Archive for the ‘Just for My Fun Time’ Category

BUMI

Bumi…

Tolong jangan lelah dulu
Temani paman surya mencahayakan hari manusia
Meski kepul asap kian membumbung menyesakkan
Udara keruh tak bersahabat sebab sepi penghijau
Dan pijakanmu dipenuhi cemar yg tak terdaur

(lebih…)

Semakin (Tidak) Tahu

Semakin seseorang banyak tahu, semakin banyak ia disadarkan bahwa ia tidak banyak tahu. Semakin banyak ia diyakinkan bahwa ia tidak bisa bertindak semaunya dan sok tahu. Semakin banyak ia diinsyafkan bahwa ia tidak punya hak bersikap arogan atas apa yg ia tahu. Semakin banyak ia dipahamkan bahwa ia belum lagi layak menepuk dada dan berkata ‘inilah aku dengan apa2 yg aku tahu’.

(lebih…)

Baby Bala2 -Mereka pun Berbahasa-

Hihihi…

Aku tertawa geli sendiri melihat jepretan2 lucu yang bertema bayi di beranda account jejaring sosialku (hyaa bilang aja epbe susahnya pake jejaring2 segala, laba2 kali ah). Mereka pelakunya adalah orangtua2 muda yang memasuki dunia baru pasca menikah: having baby (cieee, selamat yaah). Macam2 gaya2 unik yang mengundang senyum dari sosok2 mungil nan bersih itu. Ada yang sedang menguap, ada yang sedang melongo seolah berkata hello, ada yang terlihat berangan2, ada yang meringis ketika cukuran 40 hari, ada yang bonis alias bobo manis. Semua gambar menjelaskan hal yang sama betapa terberkati dan memesonanya mereka.

(lebih…)

Menulislah, Maka…

Dengan menulis aku bisa menyeimbangkan logika dan perasaan –Aku

Hmm…aku tak cukup ingat sejak kapan aku mulai ketagihan menulis. Yang aku tahu sejak membaca kumpulan cerpen pertama yang kupunya berjudul Kerlip Bintang Diandra karya Asma Nadia di kelas 2 SMA dulu, aku mulai suka mengamati orang2 dan lingkungan disekitarku lalu menuliskannya dengan gaya yang sangat sederhana. Sama halnya dengan tulisan2 sederhana mbak Asma namun membekas hingga sudut ruang2 benak. Aku ingin seperti beliau, gumaman kecilku hampir 8 tahun silam. Membahasakan cerita dengan tuturan sederhana namun kaya akan makna. Aku kemudian berpikir, betapa dahsyatnya hipnotis bayan pada kinerja otak dan hati manusia. Dan mungkin darisana kecintaanku berawal pada dunia tulis-menulis.

(lebih…)

Sapa :)

Hai rumah hatiku…apa kabar hari ini, duuh kangen rasanya ingin mengekspresikan diri disini, pasalnya ada beberapa catatan hati tentang banyak hal, terutama pendidikan, yang ingin diungkapkan, Namun sayang, fokus utamaku kini tercurah untuk mata kuliah metodologi penelitian pendidikan yang merupakan cikal bakal dari perencanaan tesisku kelak. Alhamdulillahnya judulku sudah mendapat respon positif dari dosen. Tapi ya itu, banyak sumber2 yang sebagian besar jurnal berbahasa asing yang perlu porsi besar diperhatikan untuk kubaca habis.

(lebih…)

Malam

Apa kabar malam?

Masihkah bisa kulukis wajah teduh itu pada warnamu?

Menatapinya dari kejauhan tanpa ingin dikenang

Menyematkan doa dibalik pelik rasa bimbang

Malam…

Mampukah lisan ini terus membahasakan aksaranya dalam pekatmu?

Melapangkan bathin hingga batas tipis sebuah harap

Dan aku hanya miliki waktu sempit ini

Malam yang gelap di warnamu

Malam yang pekat di kadarmu

Malam yang sendu di rasamu

Malam…

Dekap raga ini sampai fajar tiba

CATATAN RINDU UNTUK AYAH

Catatan untuk ayah juara 1 di dunia saya…

***

-Pagi itu di kelas 4 sebuah sekolah dasar-

“A…Ayah…Ayahku seperti matahari.” Ryan memulai, meski apa yang ia katakan berbeda dengan yang ia tulis. Saat itu kebetulan ia melihat jendela yang memantulkan sinar matahari. Seluruh isi kelas memusatkan penglihatan dan pendengaran mereka pada sosok yang tengah panas dingin di depan kelas itu. “Matahari…yang setiap hari menyinari kami dan menghangatkannya.” Lanjutnya puitis. Teman-temannya semakin khusyuk mendengarnya. Mereka pikir bagus apa? Hati Ryan berkomentar. Oh My God, help me.

Kepala Bu Afiah mengangguk saat Ryan menoleh kearahnya, meminta Ryan meneruskan ceritanya tentang ayah. “Walaupun lelah, tapi tak dikatakannya. Ia terus bersinar. Tanpa pernah mengeluh dan meminta imbalan. Setiap hari bekerja dengan mesin-mesinnya yang hampir membuat telingaku tuli. Bla…bla…,” Ryan melanjutkan kalimat-kalimatnya. Seperti disihir, kalimat-kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutnya.

“Ya…ayahku seperti matahari.” Ryan membungkukkan badannya. Memberi hormat. Menandakan ceritanya telah ia selesaikan.

Plok…plok…plok…

***

(lebih…)