spreading the good feel

Posts tagged ‘diri sendiri’

Just Wanna Be Me…

Hmm…

Hari ini, ketika melihat orang2 yg berlalu lalang di jalan, diselingi kendaraan yg berseliweran kesana kemari, kemudian sampai di kosan, sembari beristirahat sebentar saya membuka account facebook saya dan membaca setiap status rekan2 saya di homepage…

Tuhan…betapa sangat saya beruntung menjadi saya, dan seharusnya setiap orang pun merasakan perasaan yg sama dengan saya, beruntung menjadi diri mereka. Tak soal sebanyak apa bahagia atau duka yg dijalani, sebab masing2 orang punya masa mudah dan masa sulitnya sendiri. Ketika saya bermuram durja, bisa jadi mereka tertawa, pun sebaliknya.

Tidak ada yg perlu merasa bahwa nasib seseorang lebih baik dari orang yg lain atau tidak, sebab Tuhan sudah atur semua jalan cerita manusia dengan sebaik2nya perkara. Tidak ada yg akan teraniaya dari semua yg sudah Tuhan rencanakan ini. Tidak ada, semakhluk pun. Sebab hanya Seorang DIA yg mampu menakar segala jenis rasa bagi setiap hambaNYA yg percaya.

Dan sambil diiringi lagu Semua Karena Cinta yg dinyanyikan Joy Tobing, saya semakin bersyukur dengan menjadi saya, dengan semangat saya, dengan senyum saya, dengan semua lebih dan kurang saya.

Rabb, alhamdulillahirrobbil’alamin, syukur sujudku padaMU Tuhanku…

Iklan

Refleksi pada Kata Bernama Iri

“Sekolah lagi ya?” Tanya seseorang long long time ago, dan berubah ga hanya seorang tapi jadi berorang2, hmmfh…begitu cepatnya berita menyebar, padahal saya bukan selebritis yg suka ngiklan atau maen pelem di tipi. Yaa pernah sih sesekali sayuting utk pemotretan di majalah Tr*b*s…(yee lo kate aye bonsai ape ye??)

“Oh eh iya, insya Alloh,” saya cuma bisa jawab singkat gitu saja.

“Waah, seneng ya…gratis lagi, beruntungnya jadi kamu,” katanya lagi. Deg, entah kenapa ada sedikit luka di hati saya. (lho??) Haha aneh ya, harusnya bersyukur ya dipredikati sebagai orang yg beruntung, sekalian di-amin-i juga, siapa tahu jadi doa. (aamiiin…)

(lebih…)

Menjadi Jujur pada Diri

Ini pengalaman ketiga saya membaca karya Dewi Lestari. Sejak mengkhatamkan novel Supernova-Petir-nya, lalu menamatkan 11 kisah Recto Verso yg mengagumkan, kali ini saya dibuat takjub oleh rentetan bahasanya dalam Perahu Kertas. Saya punya pandangan sendiri terhadap karya Dee (nama pena Dewi Lestari –red), tentunya pandangan yg berbeda ketika saya menikmati karya Helvy Tiana Rossa atau Asma Nadia (dua penulis yg saya gila2i karyanya). Sebab menurut penerawangan kacamata sastra saya (jjiiiaahh gayanya doang tuh), genre tulisan Dee dan HTR-Asma Nadia memang dua hal yg berbeda, namun memiliki kesamaan: sarat makna (nah yg ini serius).

(lebih…)